Rabu, 27 Juli 2011

My friend


Hai my friend (Mamah Ester, Mamik, Andie, Yani, Minggrani, Arisanti, Watik ) masih ingatkah kalian ama teman administrasi jurusan yang sombong karena gak pernah ngumpul sama kita. Si Surono. Surono yang kalem, dan senantiasa tersenyum dengan menumpuknya kerjaan administrasi.Yach iyalah dia khan cowok, makanya gak mau kumpul ama kita-kita.dari Administrasi yang ada cuma dia yang beda.

Friend,.... masih ingatkah kalian dengan istilah : " Kita itu main tapi dibayar ". Soalnya gaji yang harus kita terima jauh dibawah UMR kota Semarang waktu itu (tahun 1998). Jadi dari pada mikir gaji yang diterima maka kita senantiasa memberikan semangat kepada yang lain bahwa kita itu gak kerja tapi main dan tar tiap akhir bulan dapat gaji. Kalo gak salah waktu itu gaji kita 400 ribu sebulan.

Friend,... masih ingatkah kalian dengan Pak Gondrong ?  itu lho penjual soto yang suka mangkal didepan kantor kita. Sebelum beraktifitas dipagi hari kita suka pesen soto ama dia. Alhamdulillah bisa mengisi kekosongan perut kita.

Masih ingatkah kalian dengan hobby kita jalan-jalanan ke Mall. Seperti Sri Ratu, Matahari, Citraland, Java Mall. Tempat yang senantiasa kita satroni kalo kita lagi banyak pendapatan atau kalo hanya sedekar cuci mata lihat produk baru dengan melakukan perjanjian dahulu gak akan beli barang-barang just looking.

Friend.... Walau kita sering ketawa-ketiwi dan banyak yang cemburu ama kekompakan kita tapi kita juga sering lho berselisih paham dan suka kita lampiaskan. Untunglah kita termasuk bisa menyimpan pertengkaran atau selisih paham yang terjadi.

Friend,... masih ingat gak kalo kita dulu sering banget dapat traktiran dari pada dosen karena mungkin kita baik hati ama mereka yach... seingat aku ada bakso, ada kue, dll.

Friend.... masih ingat gak dulu. Bila ada dari kita dateng terlambat kita suka menabsenkan dan berusaha curi-curi tuk bisa ngabsenin. Soalnya HRD-nya lumayan ....... (isi sendiri yach aku gak tega ngisinya), terutama kalo hari sabtu dan banyak alasan yang bisa kita berikan bila ditanya teman kita satu kumpulan kemana.

Friend,... masih ingat gak kita waktu mamah pusing 10 keliling buat jadwal laboratorium tuk para mahasiswa. Kita gak ngerjain kerjaan kita tapi malah membantu mamah tuk nurunin pusingnya. Walau turun jadi 8. hihihihi. Tar kalo dah gitu mamah suka traktir kita walau cuman es teh yang kita bagi-bagi..

Friend,... aku masih ingat lho saat kalian merayakan peringatan ulang tahunku didalam kelas saat aku mengajar, padahal aku udah sembunyi-sembunyi datengnya dan kelas juga sudah aku pindah masih saja kalian bisa mencariku. Antara malu dan senang, malu karena mahasiswaku jadi tahu aku ultah. Senang karena perhatian kalian pada diriku. Walau kue ultahnya kecil banget (yang gak akan bisa dibagi jumlah kita 6-7 orang) tapi itu jadi suprise buat aku dan tidak akan terlupakan walau aku lupa saat itu aku ultah yang keberapa yach..... hahahahaha. Selain dapat kejutan dipagi hari aku juga mendapatkan kado sepatu kerja warna abu-abu yang masih kusimpan walau sudah kumal dan gak bisa dipakai lagi. Mau dibuang sayang jadi ku taruh aja di loteng rumah. Dia aku bawa lho ampe ke Bogor.

Friend,... masih ingat gak kalian ama Bu Sinta. Walau dia dosen tapi dia suka juga nimrung dengan kita. Dan kita sering mendapat keluhan ttg beliau yang lumayan tegas kalo ama mahasiswa dari mahasiswa yang diajar ama dia.

Friend,.... walau sudah lama kita gak bersama lagi karena masing-masing keluar dari kerjaan tuk mencari penghasilan yang lebih tinggi dan ingin mencari tantangan yang baru maka satu persatu mulai terpisah dari surono, trus mingrani, ada aku, yani, andie, mamah, watik, arisantie, mamik (aku lupa urutannya tapi yang kuingat terakhir adminsitrasi jurusan yang tersisa adalah mamik..... hehehehehe walau sekarang dia juga sudah keluar). Kapan yach kita bisa kumpul lagi ???? surono ama yani gak tahu sekarang ada dimana, andie, arisanti, mingrani dan mamik ada disemarang mamah di manado, aku dibogor. Watik ikut suaminya ke …. (aku lupa) Yang disemarang aja susah kumpul pa lagi yang jauh. Tapi aku yakin kalian masih bisa mengingat memori yang pernah kita jalani dahulu sekitar 10 tahun yang lalu.

Selasa, 26 Juli 2011

TAK ADA ROTAN AKARPUN JADI

Selasa, 26/07/2011 05:54 WIB 

Oleh Abi Sabila

Pak Darmawan dan keluarga baru saja selesai sarapan ketika seseorang mengetuk pintu rumah mereka.
“Assalamu’alaikum…!” sang tamu mengucap salam.
“Wa’alaikum salam!” Demi mendengar tamunya adalah seorang perempuan, Bu Darmawan segera beranjak ke ruang tamu untuk membukakan pintu. Seorang perempuan setengah baya tersenyum saat pintu terbuka.
“Siapa, Bu? Kok tamunya nda diajak masuk?” tanya Pak Darmawan dua menit kemudian saat sang istri kembali ke ruang makan.
“Ibunya si Fulan, Yah. Beliau agak terburu-buru, jadi nunggu di teras saja katanya.”
Sebenarnya tidaklah terburu-buru, bahkan sang tamu enggan pulang bila tak membawa apa yang ia butuhkan. Ia hanya merasa tak enak, pagi-pagi sekali telah mengetuk pintu rumah tetangganya.
Bu Darmawan akhirnya bercerita bahwa kedatangan ibunya si Fulan adalah untuk meminjam sejumlah uang guna membayar rekening llistrik mereka yang sudah menunggak dua bulan. Yang menjadi masalah, kondisi keuangan keluarga Pak Darmawan tak jauh lebih baik dari keluarga si Fulan.
Seminggu yang lalu, anak salah satu kerabat Pak Darmawan masuk rumah sakit dan harus dioperasi karena penyakit yang cukup serius. Dan untuk itulah seluruh uang tabungan Pak Darmawan dipinjamkan. Hanya tersisa beberapa rupiah, cukup untuk belanja sehari-hari, itupun sang istri harus pintar-pintar berhemat agar cukup sampai Pak Darmawan gajian.
“Bagaimana ini, Yah?” Bu Darmawan memecah keheningan.
“Ibu tadi bilang mau meminjaminya?”
“Tidak, Yah. Ibu bilang kalau keuangan kita juga sedang tidak lebih baik dari mereka. Tapi ibunya si Fulan berharap sekali kita bisa meminjamkan uang pada mereka. Akhirnya, ibu bilang kalau ibu mau tanya sama Ayah dulu, barangkali Ayah masih punya sedikit tabungan.”
Pak Darmawan tersenyum. Tak perlu bertanya, sebenarnya sang istri sudah tahu jawabannya. Merahasiakan tabungan bukanlah kebiasaan Pak Darmawan. Seluruh uang gajian ia serahkan kepada sang istri untuk dikelola. Ia hanya mengambil secukupnya untuk ongkos kerja, membeli bensin dan sekedar cadangan kalau dalam perjalanan sepeda motornya rusak atau terjadi hal-hal diluar dugaan. Dan bulan ini, meski tak ada kerusakan ataupun kejadian tak terduga lainnya, anggaran itu akhirnya terpakai juga untuk menutupi uang belanja istrinya. Seperti diceritakan di depan, salah satu kerabat mereka sedang tertimpa musibah, dan setelah semua tabungan dikuras, mereka hanya mampu membantu tak lebih dari setengah biaya operasi.
“Yah, ibunya si Fulan masih menunggu di teras.” Bu Darmawan mengingatkan. Bisa atau tidak, ia harus segera menyampaikan. Tak enak bila membuat tamunya menunggu lama hanya untuk jawaban yang membuatnya kecewa.
“Ibu masih punya persediaan beras, gula, minyak atau kebutuhan dapur lainnya?”
“Masih, tapi rata-rata hanya cukup untuk beberapa hari ke depan. Mudah-mudahan cukup sampai Ayah gajian. Tapi kalau mie instant, kita masih punya banyak persediaan. Memangnya kenapa, Yah?” Bu Darmawan balik bertanya. Bingung.
“Kita masih punya persediaan mie instan?” raut wajah Pak Darmawan terlihat lebih cerah. Sebuah solusi telah ia temukan. “Berikan beberapa bungkus pada ibunya Fulan!”
“Yah, ibunya si Fulan kesini pinjam uang untuk bayar rekening listrik, bukan pinjam beras, gula, minyak ataupun mie instan!” Bu Darmawan mengingatkan.
Pak Darmawan tersenyum ringan. “Tak ada rotan, akarpun jadi. Tak ada uang untuk dipinjamkan, memberi mie instan pun jadi. Ayah tahu, tak mungkin membayar rekening listrik dengan mie instant. Kalaupun bisa, mana cukup persediaan mie kita untuk membayar semuanya. Tapi setidaknya, kalau kita berikan mie instan, syukur kalau masih ada kebutuhan dapur lainnya yang bisa ibu tambahkan, ibunya si Fulan bisa menghemat uang belanja untuk hari ini. Kita tak mungkin membiarkannya pulang dengan tangan hampa kan, Bu?”
“Apa nanti beliau nda tersinggung, Yah? Ibu takut nanti malah kita disangka menghina,” tanya sang istri ragu.
“Ibu sampaikan saja secara baik-baik. Tak ada maksud lain, kecuali kita hanya ingin sekali membantunya. Hanya saja, kondisi keuangan kita sedang tidak memungkinkan. Tak perlu cerita yang sebenarnya, nanti malah jadi membuka aib orang. Insya Allah, diawali dengan niat yang tulus, disampaikan dengan kata-kata yang sopan dan halus, maka Allah akan membukakan hati beliau sehingga tidak berfikir negatif, tidak merasa direndahkan, karena kita tak pernah bermaksud demikian. Semoga saja, beliau bisa segera dapat pinjaman dari orang lain.”
“Aamiin. Kalau begitu, ibu ambilkan mie instannya dulu.”
“Ya! Dan tolong sampaikan pada ibunya Fulan, sebenarnya lebih baik kalau beliau masuk saja, tidak menunggu di teras. Kalau ada orang yang melihat kan nda enak, takut menimbulkan fintah.”
“Baik, Yah. Insya Allah nanti ibu sampaikan.”
http://www.abisabila.com


Kisah diatas mungkin bisa menjadi inspirasi buat kita tentang apa itu pemberian. dan kita juga mungkin mengalami hal seperti ini didalam kehidupan yang ada disekitar kita.


Senin, 25 Juli 2011

Bingung

Senin ini banyak aktifitas yang harus dilakukan setelah minggu-minggu kemaren berkelut dengan berbagai aktifitas yang melelahkan secara fisik dan pikiran. Hari ini dalam pikiran aku banyak sekali aktifitas yang sudah menjadi perencanaan aku malam sebelumnya. Keesokan semua aktifitas yang ingin aku lakukan dihari itiu biasanya sudah kutuliskan dibuku angenda aku yang senantiasa menemani aku setiap harinya. Tapi hari ini agenda itu masih kosong,... blum ada coretan dari diriku. Bingung tuk menuliskan targetan aku hari ini. Ada beberapa aktifitas yang telah aku lakukan pagi ini begitu sampai ditempat kerja seperti koordinasi dengan teman sekerja mengenai hal-hal yang beredar dikantor (isu-isu publik gitu lho...).

Mungkinkah isu-isu (sebenarnya bukan isu baca : informasi) yang beredar dikantor secara tidak langsung mempengaruhi kerja tuk sesaat. Fenomena perubahan yang terjadi dari kantor pusat mau tak mau membuat aktifitas sedikit tersendat walaupun itu hanya sesaat. Yach maklumlah perubahan besar-besaran dari kantor pusat baru diberitahukan kepada kantor aku minggu kemaren tepatnya hari rabu. (jadinya belum tuntas seminggu ). Untung bos aku bisa memberikan informasi yang tidak membuat kami dikantor jadi semakin bertanya-tanya dengan perubahan yang terjadi beliau bisa menentramkan hati kita sebagai karyawan. hehehehehehe.

Bolongnya agenda bisa disebabkan oleh targetan awal yang harus ku selesaikan bulan ini menjadi kendor karena targetan tersebut harus diundurkan waktunya sampai ada pembahasan lebih lanjut mengenai targetan tersebut diawal bulan agustus. Biasa kalo targetan agak molor khan kita jadi agak santai.... itu dia yang aku gak terlalu suka. Padahal kalo di patok terus dengan targetan aku kadang juga liyer alias pusing. hehehehehe.
Namannya juga pegawai.

Tapi dengan adanya infomasi yang baru kemaren ada beberapa hal positif yang bisa diambil pelajaran yaitu aku bisa buat laporan yang tertunda yang belum ku kerjakan. Seharusnya laporan itu sudah selesai awal bulan juli kemaren. Mudah-mudahan bisa dikerjar sampai minggu ini, sampai hari jumat.

Jumat, 17 Juni 2011

RENSTRA, KPI, Rencana Kerja

Dikantor tempatku bekerja bulan Juni ini adalah bulan yang sedang sibuk-sibuknya tuk merencanakan apa yang menjadi agenda kegiatan tuk 1,5 tahun kedepan. Jadi untuk 1,5 tahun kedepan kita harus bisa mencapai targetan kita di Renstra (rencana Strategis lembaga). Dari targetan besar lembaga tersebut diturunkan kedalam Key Performance Indicator (istilah kerennya KPI) dari KPI yang telah dibuat diturunkan lagi kedalam rencana kerja, dari rencana kerja inilah maka lahirlah apa yang namanya rencana kegiatan.

Rencana Kegiatan inilah yang menjadi acuan kita bekerja agar targetan besar lembaga bisa tercapai. RENSTRA, KPI dan Rencana Kerja merupakan hal yang baru bagi diriku karena selama aku bekerja baru saat ini aku harus membuatnya. Karena merupakan hal baru maka pembuatan Rencana Kerja sepertinya sulit sekali padahal setelah dikerjakan menyenangkan sekali. Apalagi saat harus memasukkan bobot kedalam rencana kerja yang dibuat.

Disisi lain aku berada di departemen Quality and Development, departemen yang aku tempati senantiasa mendampingi proses yang ada dilembaga. Sehingga mau gak mau aku dan teman-teman didepartemen jadi mengetahui bahwa departemen yang lain ternyata mempunyai targetan yang lebih banyak dan lebih besar, karena targetan besar maka secara otomatis rencana yang akan dilakukan juga banyak.

Rumput tetangga kelihatan lebih hijau dari rumput kita sendiri. Perasaan itu muncul saat melihat teman-teman harus berpergian kedaerah-daerah diseluruh Indonesia dari sabang sampai merauke dengan biaya dari lembaga. Sedangkan aku gak bisa kemana-mana.hihihihi. Tapi ternyata setelah aku mengetahui targetan mereka yang begitu besar dari lembaga maka aku merasakan bahwa apa yang ku kerjakan tuk lembaga belum sebanyak yang telah teman-teman dari departemen lain lakukan.

Hubungan yang mantap antara RENSTRA, KPI dan Rencana Kerja. Sapa yang menemukan ilmu itu yach.... aku blum sempet menanyakannya ke mbah google.

Dari KPI dan Rencana Kerja, akan berkelut dibagian Budget alias anggaran. DUIT... DUIT ... DUIT tapi senantiaasa diingat uang lembaga adalah dari zakat, infaq dan shodaqoh maka perlu di tempatkan pada porsi dan tempat yang pas jangan sampai disalahgunakan.





I MISS U

Lama tak ku kunjungi blogku ini, emang susah tuk sedikit memberikan ruang tuk bisa berekspresi di blog. Tanpa alasan yang jelas blog ini gak keurus dengan baik. Waktu pingin mengisi diblog ada aja yang harus dikerjakan.
Mengisi blog emang tidak semudah yang dipikirkan karena bila sedang tidak fokus atau tidak ada topik yang ingin dituliskan diblog maka blog itu hanya seperti tong kosong nyaring bunyinya.
Mudah-mudahan blog ini bisa rutin terisi. Semangat!!!!!  Sekarang mo melanjutkan aktifitas dulu. Maaf kalo hanya beberapa baris.
I miss to write on my blog.

Kamis, 19 Mei 2011

Kesabaran

Libur panjang baru 2 hari berlalu. Libur sebenarnya adalah selasa. Libur panjang tersebut membuat macet daerah parung pada  hari senin dari pagi sampai malam,. Penyebab kemacetan yang terjadi seperti jalan rusak, angkot yang tidak tertib, pengendara yang seenaknya sendiri, dan masih banyak penyebab lainnya.

Catatan kecil saya adalah para pengendara sepeda motor sekarang ini banyak yang tidak tertib dalam berlalu lintas. Saya juga seorang pengendara sepeda motor, hanya saja kadang saya suka merasa miris jika melihat pengendara sepeda motor sekarang (terutama di Jabodetabek) tidak tertib berlalu lintas. mereka hanya memikirkan diri mereka sendiri untuk bisa lancar dan cepat sampai ditujuan.

Sebagai contoh yang bisa dituliskan disini, banyak pengendara sepeda motor yang tidak memberikan kesempatan bagi kendaraan yang lain untuk lewat. Sudah jelas didepan (dari arah berlawanan) ada truk besar sedang mencari jalan tuk lewat masih saja dia berusaha keposisi mendekati truk yang mau lewat, yang penting dia masih bisa maju kedepan dan ada jalan yang bisa dipake. maka kemacetan jadi makin lama, karena truk besar yang harusnya bisa lewat tersendat karena motor yang didepan dia tidak ada yang mau kasih jalan.

Melihat hal ini terkadang miris, dimanakah rasa sosial kita kepada sesama pemakai jalan, rasa toleransi kita.
Kesabaran untuk menunggu beberapa menit saja, memberikan kesempatan kepada yang lainnya. gak membutuhkan waktu lama jika kita mau memberikan sedikit waktu kita untuk orang disekitar kita.

Senin, 09 Mei 2011

Puaskah


PUASKAH KAU LUKAIKU
PUASKAH KAU SAKITKU
PUASKAH HIYANATIKU
PUASKAH OOHH  SAYANGKU

DIMANA KAH NURANIMU
DIMANA AKAL SEHATMU
SEKARANG KAU CAMPAK KAN KU SETELAH KAU DAPATKAN KU
MUNGKIN HANYA BILA KU MATI KAU KHAN BERHENTI TUK MENYAKITI SAMPAI KAPAN AKU BEGINI TERUS BEGINI TERUS ENGKAU LUKAI

INGATKAH SAAT YANG LALU
SAAT KAU PELUK DIRIKU
TAPI KINI SEMUA LAYU 
KAU TEGA HIYANATIKU

MUNGKIN HANYA BILA KU MATI
KAU KHAN M=BERHENTI TUK MENYAKITI
SAMPAI KAPAN AKU BEGINI TERUS BEGINI TERUS ENGKAU LUKAI

(Song from Wali yang berjudul " Puaskah")

Lagu ini akhir-akhir ini sering aku dengar, seperti diangkot, ditempat kerja. Tadinya gak tahu nich lagu punya sapa. Dapet infonya dari temen dikantor yang ternyata ngfans ama Wali. Dah dibela-belain dapet teksnya karena penasaran, kok enak banget.

Hal yang bisa dipetik dari lagu ini adalah bila kita emang sudah gak berhubungan dengan seseorang janganlah suka menyakiti. That is not good. Mendingan kita tetep saja berbuat baik sehingga pahala kita juga bisa bertambah daripada bertengkar atau saling menyakiti.

Dengan berlapang dada dan bersyukur menerima apa yang terjadi dengan kita bisa membuat hidup kita lebih tenang.