Rabu, 04 Juli 2012

LOVE STORY


Akhirnya  terucap juga kata – kata yang tidak ingin diucapkan dari bibir manisnya. Hanya kata singkat dua huruf yaitu No yang berarti tidak. Dengan berat hati kata itu akhirnya diucapkan untuk Orang yang dicintai, disayangi dan dihormatinya.

“Maafkan bila kata-kata itu harus kukatakan,
 Maaf bila aku tidak bisa menjadi seperti yang dirimu harapkan kekasihku,
Dirimu masih bisa mencari  sosok wanita lain
Yang senantiasa bisa membimbing  untuk senantiasa ingat  ALLAH SWT,
 Yang bisa menjagamu disaat kau membutuhkan,
Sosok yang bisa menemani dikala kau sedang sendiri ataupun sedang sakit,
Sosok yang senantiasa bisa mencintai, menyayangi dan menghormatimu apa adanya dirimu.
Maafkan aku telah masuk dikehidupan dirimu dan keluargamu
Aku hanya bisa mencintai, menyayangi dan menghormatimu tanpa bisa ku memiliki dirimu seutuhnya
Aku iklas melepaskan dirimu untuk kebaikanmu
Kudoakan kau mendapatkan sosok wanita yang tepat untuk dirimu dan keluargamu
Terima kasih atas apa yang telah dirimu berikan padaku
Sekali lagi maafkan aku, maafkan aku sayang.......”
Demikian batin gadis manis itu sambil memandangi sosok lelaki gagah yang mulai pergi menjauh meninggalkannya.

Cinta memang membingungkan,  terkadang bisa membuat orang sangat bahagia tapi terkadang cinta harus berlinang air mata karena tidak bisa saling memiliki.

For my friend disana, don’t be sad. Life still go on. Jika dikemudian hari Kalian berdua memang berjodoh Insya Allah, Allah akan mempertemukan kalian.

Selasa, 03 Juli 2012

Dirimukah Jawabannya

Ketika kutemukan hatimu…
Tak lagi dapat kubendung rasa rinduku…
Apakah kamu tahu bahwa aku selalu menantimu?
Apakah kamu pernah sadari semua perasaanku?

Ketika semua telah terlewat waktu…
Kudapati ratapan pilu di dasar jiwaku…
Apakah ini tangis penyesalan?
Ataukah ini sebuah tangis yang justru merupakan kebahagiaan?

Aku tak tahu…
Apakah takdir ini menjebakku?
Membuatku termangu antara pilihan hati yang meragukanku…
Ataukah karena waktu yang tak ingin berdamai dengan hatiku…
Tapi hanya waktu yang dapat mengerti,
Nilai cinta…

Aku percaya…
Akan ada saatnya…
Allah mempertemukanku dengan belahan hati…
Yang mengerti dan pahami…

Tapi salahkah aku?
Jika sampai saat ini
Kuharap seseorang itu kau…
Dosakah aku?

Senin, 18 Juni 2012

Mendoakan Untuk Pasangan Hidup Kita

 ❤•.......•❤•.....•❤•.....•❤•.....•❤•.......•❤•.......•❤•.......•❤.......•❤•.....•❤•.....•❤•.....•❤•.......•❤•Photo: Betapa banyak rumah tangga diselamatkan oleh Allah dari kehancuran, karena doa seorang suami atau istri untuk pasangannya. Doa, bisa mengubah sesuatu yang sepertinya tak mungkin, menjadi mungkin. Tentu saja, dengan izin Allah ta’ala.

Sebagai contoh kongkrit, marilah kita simak penuturan seorang suami yang dahulunya selalu memperlakukan istrinya dengan kasar dan semena-mena. Ia berkata, “Bila aku tidak menemukan pakaianku terletak di tempatnya, langsung saja aku dengan kemarahan dan kalap memukulinya dan menempeleng wajahnya. Begitu juga bila kurang garam dalam makananku. Betapa malangnya dia. Aku bertambah marah dan naik pitam bila dia menasihatiku. Jika dia menyuruhku shalat, aku pun marah dan justru menghidupkan musik. Kadang aku juga memaksanya menghadiri tempat-tempat atau berbagai pesta yang tidak layak dihadiri oleh seorang wanita muslimah.”

Istrinya pun dihadapkan pada dua pilihan. Meminta cerai, atau bersabar serta mengadukan segalanya hanya kepada Allah ta’ala, serta meminta solusi kepada-Nya? Ia yang masih memiliki rasa cinta kepada suaminya, memilih alternatif kedua. Setiap malam, pada waktu sahur ia bermunajat kepada Allah ta’ala.

Sang suami melanjutkan kisahnya. “Terkadang, di malam hari aku bangun dari tidurku…tidak melihat istriku berbaring di atas ranjang. Maka aku pun bangkit mencarinya. Ternyata ia sedang berdiri menghadap Allah ta’ala dan merintih dalam doanya. Kejadian seperti ini diulanginya berkali-kali.

Hingga pada suatu malam, ketika ia sedang menangis lirih, berdoa kepada Allah dalam shalat malamnya, aku terbangun. Tangisan dan doanya itu telah membangunkanku. Lalu aku merasakan sakit di dadaku. Rasa sakit itu menjadikanku mengingat kembali tentang kehidupanku selama ini, perlakuanku terhadapnya…terbayang…terus terbayang dengan jelas. Sementara ia tetap dalam untaian doanya yang terdengar pilu di telingaku…betapa tidak? Ia memohonkan untukku sebuah hidayah dan kebaikan tingkah laku….

Dengan sigap, aku bangkit bergegas menuju tempat wudhu, yang selama ini selalu kujauhi… Aku mulai berwudhu kemudian shalat berjamaah subuh di masjid. Sejak saat itulah aku mulai mengenali diriku dan istriku dalam posisi yang kontradiktif. Ia penuh kesabaran dan taat beribadah. Sebaliknya diriku, penuh kemarahan dan sangat ingkar terhadap ibadah.”

Bagaimana akhir kisah ini? Mari kita simak penuturan sahabat lelaki itu. Dia berkata, “Demi Allah…sekarang ini aku berharap bisa berbuat seperti yang dia perbuat kepada istrinya…Kepribadiannya begitu sopan, lembut, dan kewaraannya luar biasa. Bertolak belakang dengan sikap sebelumnya….Kini ia terpilih sebagai petugas muadzin di salah satu masjid jami’ di kota kami tinggal. Sungguh jiwanya telah melekat dengan masjid, padahal dahulunya sangat jauh. Maha Suci Allah yang membolak-balikkan hati.” [1]

Contoh-contoh lain bisa kita temui di sekitar kita, atau kita baca pada buku-buku kisah nyata.

Terasa sempitnya hidup ini, atau berbagai gambaran negatif yang sering terbentuk saat melihat kejadian-kejadian di hadapan kita, kerap menyeret kita ke arah ketidakbahagiaan. Salah satu penyebab hal itu adalah keengganan kita mendoakan orang lain. Cobalah Anda berdoa agar Allah ta’ala melapangkan hati pasangan, insya Allah, kelapangan hati pun akan Anda dapatkan.

Ini sejalan dengan hadits Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, “Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Di atas kepalanya ada malaikat yang menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata ’aamiin’ dan engkau pun mendapatkan apa yang ia dapatkan.” (Riwayat Muslim)

Jadi…, mari berdoa untuk pasangan kita tercinta.....



❤•.......•❤•.....•❤•.....•❤•.....•❤•.......•❤•

Salam ukhuwah ..

(Sajadah Panjang Abu Ilyas ) http://www.facebook.com/pages/Sajadah-Panjang-Abu-Ilyas/195345590526739

❤•.......•❤•.....•❤•.....•❤•.....•❤•.......•❤• 
Betapa banyak rumah tangga diselamatkan oleh Allah dari kehancuran, karena doa seorang suami atau istri untuk pasangannya. Doa, bisa mengubah sesuatu yang sepertinya tak mungkin, menjadi mungkin. Tentu saja, dengan izin Allah ta’ala.

Sebagai contoh kongkrit, marilah kita simak penuturan seorang suami yang dahulunya selalu memperlakukan istrinya dengan kasar dan semena-mena. Ia berkata, “Bila aku tidak menemukan pakaianku terletak di tempatnya, langsung saja aku dengan kemarahan dan kalap memukulinya dan menempeleng wajahnya. Begitu juga bila kurang garam dalam makananku. Betapa malangnya dia. Aku bertambah marah dan naik pitam bila dia menasihatiku. Jika dia menyuruhku shalat, aku pun marah dan justru menghidupkan musik. Kadang aku juga memaksanya menghadiri tempat-tempat atau berbagai pesta yang tidak layak dihadiri oleh seorang wanita muslimah.”

Istrinya pun dihadapkan pada dua pilihan. Meminta cerai, atau bersabar serta mengadukan segalanya hanya kepada Allah ta’ala, serta meminta solusi kepada-Nya? Ia yang masih memiliki rasa cinta kepada suaminya, memilih alternatif kedua. Setiap malam, pada waktu sahur ia bermunajat kepada Allah ta’ala.

Sang suami melanjutkan kisahnya. “Terkadang, di malam hari aku bangun dari tidurku…tidak melihat istriku berbaring di atas ranjang. Maka aku pun bangkit mencarinya. Ternyata ia sedang berdiri menghadap Allah ta’ala dan merintih dalam doanya. Kejadian seperti ini diulanginya berkali-kali.

Hingga pada suatu malam, ketika ia sedang menangis lirih, berdoa kepada Allah dalam shalat malamnya, aku terbangun. Tangisan dan doanya itu telah membangunkanku. Lalu aku merasakan sakit di dadaku. Rasa sakit itu menjadikanku mengingat kembali tentang kehidupanku selama ini, perlakuanku terhadapnya…terbayang…terus terbayang dengan jelas. Sementara ia tetap dalam untaian doanya yang terdengar pilu di telingaku…betapa tidak? Ia memohonkan untukku sebuah hidayah dan kebaikan tingkah laku….

Dengan sigap, aku bangkit bergegas menuju tempat wudhu, yang selama ini selalu kujauhi… Aku mulai berwudhu kemudian shalat berjamaah subuh di masjid. Sejak saat itulah aku mulai mengenali diriku dan istriku dalam posisi yang kontradiktif. Ia penuh kesabaran dan taat beribadah. Sebaliknya diriku, penuh kemarahan dan sangat ingkar terhadap ibadah.”

Bagaimana akhir kisah ini? Mari kita simak penuturan sahabat lelaki itu. Dia berkata, “Demi Allah…sekarang ini aku berharap bisa berbuat seperti yang dia perbuat kepada istrinya…Kepribadiannya begitu sopan, lembut, dan kewaraannya luar biasa. Bertolak belakang dengan sikap sebelumnya….Kini ia terpilih sebagai petugas muadzin di salah satu masjid jami’ di kota kami tinggal. Sungguh jiwanya telah melekat dengan masjid, padahal dahulunya sangat jauh. Maha Suci Allah yang membolak-balikkan hati.” [1]

Contoh-contoh lain bisa kita temui di sekitar kita, atau kita baca pada buku-buku kisah nyata.

Terasa sempitnya hidup ini, atau berbagai gambaran negatif yang sering terbentuk saat melihat kejadian-kejadian di hadapan kita, kerap menyeret kita ke arah ketidakbahagiaan. Salah satu penyebab hal itu adalah keengganan kita mendoakan orang lain. Cobalah Anda berdoa agar Allah ta’ala melapangkan hati pasangan, insya Allah, kelapangan hati pun akan Anda dapatkan.

Ini sejalan dengan hadits Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, “Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Di atas kepalanya ada malaikat yang menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata ’aamiin’ dan engkau pun mendapatkan apa yang ia dapatkan.” (Riwayat Muslim)

Jadi…, mari berdoa untuk pasangan kita tercinta.....

❤•.......•❤•.....•❤•.....•❤•.....•❤•.......•❤•
.......•❤•.......•❤•.....•❤•.....•❤•.....•❤•.......•❤•

Salam ukhuwah ..

(Sajadah Panjang Abu Ilyas )

Senin, 11 Juni 2012

4 Istri Dalam Kehidupan

❤•.......•❤•.....•❤•.....•❤•.....•❤•.......•❤•

Suatu ketika, ada seorang pedagang kaya yang mempunyai 4 orang istri. Dia mencintai istri yang keempat, dan menganugerahinya harta dan kesenangan yang banyak. Sebab, dialah yang tercantik diantara semua istrinya. Pria ini selalu memberikan yang terbaik buat istri keempatnya ini.

Pedagang itu juga mencintai istrinya yang ketiga. Dia sangat bangga dengan istrinya ini, dan selalu berusaha untuk memperkenalkan wanita ini kepada semua temannya. Namun, ia juga selalu khawatir kalau istrinya ini akan lari dengan pria yang lain.

Begitu juga dengan istri yang kedua. Ia pun sangat menyukainya. Ia adalah istri yang sabar dan pengertian. Kapanpun pedagang ini mendapat masalah, dia selalu meminta pertimbangan istrinya ini. Dialah tempat bergantung. Dia selalu menolong dan mendampingi suaminya, melewati masa-masa yang sulit. Sama halnya dengan istri yang pertama. Dia adalah pasangan yang sangat setia. Dia selalu membawa perbaikan bagi kehidupan keluarga ini. Dia lah yang merawat dan mengatur semua kekayaan dan usaha sang suami. Akan tetapi, sang pedagang, tak begitu mencintainya. Walaupun sang istri pertama ini begitu sayang padanya, namun, pedagang ini tak begitu mempedulikannya.

Suatu ketika, si pedagang sakit. Lama kemudian, ia menyadari, bahwa ia akan segera meninggal. Dia meresapi semua kehidupan indahnya, dan berkata dalam hati. “Saat ini, aku punya 4 orang istri. Namun, saat aku meninggal, aku akan sendiri. Betapa menyedihkan jika aku harus hidup sendiri.” Lalu, ia meminta semua istrinya datang, dan kemudian mulai bertanya pada istri keempatnya. “Kaulah yang paling kucintai, kuberikan kau gaun dan perhiasan yang indah. Nah, sekarang, aku akan mati, maukah kau mendampingiku dan menemaniku? Ia terdiam. “Tentu saja tidak, “jawab istri keempat, dan pergi begitu saja tanpa berkata-kata lagi.

Jawaban itu sangat menyakitkan hati. Seakan-akan, ada pisau yang terhunus dan mengiris-iris hatinya. Pedagang yang sedih itu lalu bertanya pada istri ketiga. “Akupun mencintaimu sepenuh hati, dan saat ini, hidupku akan berakhir. Maukah kau ikut denganku, dan menemani akhir hayatku?"


Istrinya menjawab, Hidup begitu indah disini. Aku akan menikah lagi jika kau mati. Sang pedagang begitu terpukul dengan ucapan ini. Badannya mulai merasa demam. Lalu, ia bertanya pada istri keduanya. “Aku selalu berpaling padamu setiap kali mendapat masalah. Dan kau selalu mau membantuku. Kini, aku butuh sekali pertolonganmu. Kalau ku mati, maukah kau ikut dan mendampingiku? Sang istri menjawab pelan. “Maafkan aku,” ujarnya “Aku tak bisa menolongmu kali ini. Aku hanya bisa mengantarmu hingga ke liang kubur saja. Nanti, akan kubuatkan makam yang indah buatmu.

Jawaban itu seperti kilat yang menyambar. Sang pedagang kini merasa putus asa.

Tiba-tiba terdengar sebuah suara. “Aku akan tinggal denganmu. Aku akan ikut kemanapun kau pergi. Aku, tak akan meninggalkanmu, aku akan setia bersamamu. Sang pedagang lalu menoleh ke samping, dan mendapati istri pertamanya disana. Dia tampak begitu kurus. Badannya tampak seperti orang yang kelaparan. Merasa menyesal, sang pedagang lalu bergumam, “Kalau saja, aku bisa merawatmu lebih baik saat ku mampu, tak akan kubiarkan kau seperti ini, istriku.”

Renungan :

Teman, sesungguhnya kita punya 4 orang istri dalam hidup ini.

Istri yang keempat, adalah Seberapapun banyak waktu dan biaya yang kita keluarkan untuk tubuh kita supaya tampak indah dan gagah, semuanya akan hilang. Ia akan pergi segera kalau kita meninggal. Tak ada keindahan dan kegagahan yang tersisa saat kita menghadap-Nya.

Istri yang ketiga, adalah status sosial dan kekayaan.

Saat kita meninggal, semuanya akan pergi kepada yang lain. Mereka akan berpindah, dan melupakan kita yang pernah memilikinya.

Sedangkan istri yang kedua, adalah kerabat dan teman-teman.
Seberapapun dekat hubungan kita dengan mereka, mereka tak akan bisa bersama kita selamanya.

Hanya sampai kuburlah mereka akan menemani kita.

Dan, teman, sesungguhnya, istri pertama kita adalah. Mungkin, kita sering mengabaikan, dan melupakannya demi kekayaan dan kesenangan pribadi. Namun, sebenarnya, hanya jiwa dan amal kita sajalah yang mampu untuk terus setia dan mendampingi kemanapun kita melangkah. Hanya amal yang mampu menolong kita diakhirat kelak.

Jadi, selagi mampu, perlakukanlah jiwa dan amal kita dengan bijak. Jangan sampai kita menyesal belakangan.

Mumpung masih hidup

Mumpung masih sehat

Mumpung masih longgar

Mumpung masih muda

Semoga Insya Allah...

************

Salam ukhuwah ..

(Sajadah Panjang Abu Ilyas )

http://www.facebook.com/pages/Sajadah-Panjang-Abu-Ilyas/195345590526739

Rabu, 06 Juni 2012

KALA SUBUH KITA LEBIH AWAL

Artikel ini pernah kupost di 12 November 2009 dari sebuah jejaring sosial, dan tak ada salahnya tuk ku tuliskan kembali di blog aku ini yang sudah lama mengalami kefakuman. Mudah-mudahan niat untuk mengiatkan blog aku ini bisa tercapai lagi. 2 bulan lebih tak ada ide yang kutuangkan hanya tersimpan dalam otak kepala. Inilah artikel kala subuh kita lebih awal.............

Jika kita perhatikan sekarang ini, waktu shalat Shubuh kita di beberapa bagian—terutama di bagian Barat Indonesia, jatuh sekitar jam 04.00 pagi. Ini mungkin baru terjadi dalam kurun waktu yang lama sekali. Sebelumnya, selama bertahun-tahun, kita melaksanakan Shalat Shubuh pada jam 05.00 kurang atau paling tidak, pukul 04.30 pagi. Mengapa?

Ibrahim bin Adham mengatakan bahwa jika ingin melihat kebangkitan Islam, maka lihatlah Shalat Shubuh di masjid-masjid. Maksudnya, Islam akan kembali bangkit dan menemukan zaman keemasannya jika jamaah Shalat Shubuh di masjid sama banyaknya dengan jamaah shalat Jumat.

Kita sudah tahu bahwa dalam shalat Jumat, berlepas dari banyak juga yang tidak melakukannya, tetapi masjid-masjid jamie selalu penuh. Orang-orang menghentikan sejenak aktivitasnya. Di waktu shalat-shalat lainnya, masjid kembali ke “habitat”-nya semula: sepi dan hanya paling tidak, di sebagian besar masjid, hanya mempunyai jamaah tiga atau empat shaff. Itupun ketika Maghrib dan Isya saja. Shalat

Shubuh yang paling mengenaskan. Seringkali, muadzin melakukan semuanya sendirian: beradzan, qomat, menjadi imam dan juga jamaahnya, alias tak ada jamaahnya. Paling bagus, shalat Shubuh diikuti oleh satu baris yang terdiri dari orang-orang tua saja.

Dengan bergesernya waktu shalat Shubuh yang lebih awal, bisa ditebak, shalat Shubuh di masjid menjadi makin sepi. Jumlah jamaah yang tadinya sudah sedikit semakin surut saja. Dan jangan terlalu banyak berharap melihat anak-anak muda di barisan jamaah shalat Shubuh. Memang kadang-kadang aja juga, namun yang kadang-kadang itupun jumlahnya tidak lebih dari hitungan jari satu tangan saja.

Sebaliknya anak-anak muda kita sekarang ini, jika kebetulan pas hari libur, mereka sering kali masih bisa kita temui di pinggir jalan sampai larut malam. Mereka berkumpul dan begadang, menghabiskan malam bersama-sama, dan kemudian pergi tidur justru ketika Shubuh akan segera jatuh.

Sebagian besar bencana besar sering kali terjadi pada waktu setelah Shubuh yang tenang. Misalnya saja Tsunami Aceh dan tragedi Situ Gintung belakangan ini.

Semoga, kita menjadi orang-orang yang senantiasa menjalankan shalat Shubuh berjamaah di masjid. (sa)

UNIVERSITAS KEHIDUPAN

Ketika kerjamu tidak dihargai, maka saat itu kamu sedang belajar arti KETULUSAN
Ketika usahamu dinilai tidak penting, maka saat itu kau sedang belajar arti KEIKLASAN
Ketika hatimu terluka sangat dalam, maka saat itu kau sedang belajar arti MEMAAFKAN
Ketika kau harus lelah dan kecewa, maka saat itu kau sedang balajar arti KESUNGGUHAN
ketika kau merasa sepi, maka saat itu kau sedang belajar arti KETANGGUHAN
Ketika kau harus membayar biaya yang seharusnya tidak perlu kau tanggung, maka saat itu kau sedang belajar arti KEMURAHAN

TETAP SEMANGAT, TETAP SABAR, TETAP SENYUM DAN TERUS BELAJAR karena Kau sedang menimba ilmu di Universitas Kehidupan.

Semoga karya terbaik diciptakan hari ini.

Rabu, 18 April 2012

MET MILAD

Sudah lama aku gak menuliskan serangkaian kata-kata di blog aku ini. Bulan Maret 2012 no berita sama sekali, aktifitas dibulan Maret emang tidak bisa diselingi tuk mengisi blog aku ini.

Sebulan lebih kutinggalkan,... ku coba meluangkan waktu tuk mengisinya kembali.


Diawali dengan tiup lilinnya... tiup lilinnya dan sambil mendengarkan lagu happy birthday yang tidak biasa kita dengarkan, silahkan membacanya.

Tanggal 19 April 2012 ini genap sudah usiaku menginjak 35 tahun. Usia yang dirasakan belum cukup untuk bisa memahami arti kehidupan, karena aku merasakan masih sedikit yang telah aku perbuat dan aku kontribusikan untuk semuanya (keluarga, pekerjaan dan lingkungan sekitar).

Diusia ini Aku sudah dikaruniai 2 anak yang senantiasa mengisi hari-hariku yaitu Nashwan Priambudi dan Rifqi Setiawan Saputra, suami yang senantiasa menemani aku dalam suka dan duka, keluarga yang ada di Bekasi, Semarang dan Malang yang senantiasa memberikan semangat bila ada keluhan yang keluar dari aku.

Aku bersyukur atas semua yang telah aku terima selama 35 tahun ini dan tidak ingin mengulanginya lagi bila nanti aku bisa melakukan reinkarnasi.

Aku berharap dimasa mendatang aku bisa lebih meningkatkan ibadahku terutama sholat 5 waktu dan sholat sunah, bersedekah, berinfaq dan berzakat. For my Family semoga Allah senantiasa memberikan petunjuk dan jalan yang terbaik untuk aku dan suami dalam mendidik buah hati Kami. That my wishes...

Selamat milad ya IKA DAMA PARYANING ASTUTI. Semoga harapan dikau bisa tercapai seperti lagu Happy Birthday.

Kira-kira ada yang traktir aku gak yach....?????? Jarang-jarang ultah ditraktir. :):):)